Pada tahun 1882-1884 Banten ditimpa dua malapetaka besar, yaitu meletusnya Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883, dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Akibat dari meletusnya Gunung Krakatau menyebakan banyaknya korban jiwa berjatuhan, tidak hanya itu, di sektor ekonomi juga mengalami kelumpuhan. Sebab perkebunan menjadi gersang akibat letusan gunung.
Penderitaan itu semakin terasa setelah sebelumnya wabah penyakit ternak juga menyerang hewan-hewan ternak milik pribumi pada tahun 1879. Ditambah lagi dengan adanya wabah demam yang menyebabkan lebih dari 10 persen penduduk meninggal dunia. Pada saat itu kondisi masyarakat yang memercayai pohon-pohon tua sebagai penolong menimbulkan keresahan di kalangan para pemuka agama Islam di Cilegon.
Disatu sisi kolonial Belanda yang terganggu dengan adanya suara adzan kemudian melakukan pelarangan adzan dan dzikir yang biasa dilakukan oleh orang-orang Islam. Perbuatan semena-mena terhadap masyarakat pribumi membuat para pemuka agama semakin geram kepada Kolonial Belanda. Dari sinilah muncul kepercayaan bahwa meletusnya Gunung Krakatau merupakan azab dari Allah yang telah membiarkan para pemimpin dzalim berkuasa.
Akhirnya para pemuka agama yang memang mayoritasnya adalah muslim, mulai merencanakan perlawanan terhadap Belanda. Karena pada saat itu pihak Kolonial Belanda yang berkuasa. Pemberontakan pertama di rencanakan oleh K.H. Wasyid yang mengadakan pertemuan dengan Haji Tubagus Ismail dan pemimpin pemuka lainnya untuk merencakan pemberontakan yang akan dimulai di Cilegon kemudian disusul serangan ke Serang pada tanggal 9 Juli 1888.
Serangan pertama dilancarkan di Daerah Saneja sebagai ibukota afdeling Cilegon. Singkat cerita, Haji Tubagus Ismail beserta rombongannya berhasil menyerang kediaman seorang Dumas sambil berteriak “Sabil Allah”. Namun saat itu Dumas berhasil menyelematkan diri. Tak lama dari peristiwa penyerangan itu, Pasukan Tubagus Ismail bertemu dengan pasukan lainnya yang berjumlah besar yang sedang menuju gardu di Pasar Jombang. Gerakan ini dipimpin oleh K.H. Wasyid. Dalam peristiwa ini Dumas menjadi korban pertama sampai pada akhirnnya pasukan K.H. Wasyid berhasil menduduki Kota Cilegon.
Pemberontakan tidak terjadi di Kota Cilegon saja melainkan di Bojonegara, Balagendung, Krapyak, Grogol, dan Mancak. Pemusatan pasukan K.H. Wasyid berkumpul di Bendung, Trumbu, Kubang, Kloran, dan Kagenteran. Pada petang tanggal 9 Juli pasukan ini diliputi semangat yang tinggi karena sebentar lagi mereka akan berada di Serang.
Mengetahui hal itu, Kolonial Belanda tidak tinggal diam, pihak Belanda menyiapkan pasukan untuk menumpas pemberontakan. Pertempuran dipimpin oleh Van der Star untuk melakukan penumpasan terhadap pasukan K.H. Wasyid. Namun pertempuran di Toyometro menurunkan moril mereka. Penumpasan itu mengalami kesulitan karena pasukan K.H. Wasyid berpindah-pindah tempat.
Penumpasan selama satu bulan berakhir dengan terbunuhnya para pemuka agama salah satunya K.H. Wasyid yang memimpin pemberontakan petani Banten. Dari peristiwa tersebut kita dapat melihat bagaimana perjuangan dan perngorbanan para kiyai sebagai motor penggerak untuk melakukan penyerangan terhadap Kolonial Belanda yang sewenang-wenang terhadap masyarakat pribumi. Gerakan sosial tersebut marak terjadi apad abad ke-19 awal sampai abad ke-20.
Kepemimpinan Kiayi dalam melakukan pergerakan melawan penjajah didasari oleh motivasi dan kondisi yang sama, yaitu untuk mempertahankan aqidah dan ibadah. Mencegah kemungkaran, kesyirikan, serta kekufuran. Tak hanya itu, pengaruh kiayi juga memberi dampak bagi pengikut-pengikutnya. Salah satunya ialah adanya hubungan antara kalangan elit agamawan dan kaum bangsawan di Banten. Dan kesetiaan para santri terhadap kiayi membuat pengaruhnya menjadi lebih kokoh.
Sumber:
Buku: Kartodirdjo, Sartono. 1984. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: Pustaka Jaya.
Ribawati, Eko. 2020. Sejarah Sosial Ekonomi. Serang: Perc. Rajawali.