Minggu, 13 Juni 2021

Peran Kiayi dalam Peristiwa Geger Cilegon 1888

Oleh: Imas Mufliha
(Pendidikan Sejarah 2019)

Pada tahun 1882-1884 Banten ditimpa dua malapetaka besar, yaitu meletusnya Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883, dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Akibat dari meletusnya Gunung Krakatau menyebakan banyaknya korban jiwa berjatuhan, tidak hanya itu, di sektor ekonomi juga mengalami kelumpuhan. Sebab perkebunan menjadi gersang akibat letusan gunung.

Penderitaan itu semakin terasa setelah sebelumnya wabah penyakit ternak juga menyerang hewan-hewan ternak milik pribumi pada tahun 1879. Ditambah lagi dengan adanya wabah demam yang menyebabkan lebih dari 10 persen penduduk meninggal dunia. Pada saat itu kondisi masyarakat yang memercayai pohon-pohon tua sebagai penolong menimbulkan keresahan di kalangan para pemuka agama Islam di Cilegon.

Disatu sisi kolonial Belanda yang terganggu dengan adanya suara adzan kemudian melakukan pelarangan adzan dan dzikir yang biasa dilakukan oleh orang-orang Islam. Perbuatan semena-mena terhadap masyarakat pribumi membuat para pemuka agama semakin geram kepada Kolonial Belanda. Dari sinilah muncul kepercayaan bahwa meletusnya Gunung Krakatau merupakan azab dari Allah yang telah membiarkan para pemimpin dzalim berkuasa.

Akhirnya para pemuka agama yang memang mayoritasnya adalah muslim, mulai merencanakan perlawanan terhadap Belanda. Karena pada saat itu pihak Kolonial Belanda yang berkuasa. Pemberontakan pertama di rencanakan oleh K.H. Wasyid yang mengadakan pertemuan dengan Haji Tubagus Ismail dan pemimpin pemuka lainnya untuk merencakan pemberontakan yang akan dimulai di Cilegon kemudian disusul serangan ke Serang pada tanggal 9 Juli 1888.

Serangan pertama dilancarkan di Daerah Saneja sebagai ibukota afdeling Cilegon. Singkat cerita, Haji Tubagus Ismail beserta rombongannya berhasil menyerang kediaman seorang Dumas sambil berteriak “Sabil Allah”. Namun saat itu Dumas berhasil menyelematkan diri. Tak lama dari peristiwa penyerangan itu, Pasukan Tubagus Ismail bertemu dengan pasukan lainnya yang berjumlah besar yang sedang menuju gardu di Pasar Jombang. Gerakan ini dipimpin oleh K.H. Wasyid. Dalam peristiwa ini Dumas menjadi korban pertama sampai pada akhirnnya pasukan K.H. Wasyid berhasil menduduki Kota Cilegon.

Pemberontakan tidak terjadi di Kota Cilegon saja melainkan di Bojonegara, Balagendung, Krapyak, Grogol, dan Mancak. Pemusatan pasukan K.H. Wasyid berkumpul di Bendung, Trumbu, Kubang, Kloran, dan Kagenteran. Pada petang tanggal 9 Juli pasukan ini diliputi semangat yang tinggi karena sebentar lagi mereka akan berada di Serang.

Mengetahui hal itu, Kolonial Belanda tidak tinggal diam, pihak Belanda menyiapkan pasukan untuk menumpas pemberontakan. Pertempuran dipimpin oleh Van der Star untuk melakukan penumpasan terhadap pasukan K.H. Wasyid. Namun pertempuran di Toyometro menurunkan moril mereka. Penumpasan itu mengalami kesulitan karena pasukan K.H. Wasyid berpindah-pindah tempat.

Penumpasan selama satu bulan berakhir dengan terbunuhnya para pemuka agama salah satunya K.H. Wasyid yang memimpin pemberontakan petani Banten. Dari peristiwa tersebut kita dapat melihat bagaimana perjuangan dan perngorbanan para kiyai sebagai motor penggerak untuk melakukan penyerangan terhadap Kolonial Belanda yang sewenang-wenang terhadap masyarakat pribumi. Gerakan sosial tersebut marak terjadi apad abad ke-19 awal sampai abad ke-20.

Kepemimpinan Kiayi dalam melakukan pergerakan melawan penjajah didasari oleh motivasi dan kondisi yang sama, yaitu untuk mempertahankan aqidah dan ibadah. Mencegah kemungkaran, kesyirikan, serta kekufuran. Tak hanya itu, pengaruh kiayi juga memberi dampak bagi pengikut-pengikutnya. Salah satunya ialah adanya hubungan antara kalangan elit agamawan dan kaum bangsawan di Banten. Dan kesetiaan para santri terhadap kiayi membuat pengaruhnya menjadi lebih kokoh.

Sumber:
Buku: Kartodirdjo, Sartono. 1984. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: Pustaka Jaya.
Ribawati, Eko. 2020. Sejarah Sosial Ekonomi. Serang: Perc. Rajawali.

Rabu, 21 Oktober 2020

Cerita Santri


Fajar namanya, anak rantau dari sebuah pulau kecil di perbatasan Banten dan Jakarta. Sudah 2 tahun ia sekolah sambil mondok di Kota Serang-Banten, daerah yang disebut tanah seribu ulama, sejuta santri. Fajar sekolah di sebuah Madrasah Aliyah Swasta dekat Masjid Agung Kota yang biasa ramai dikunjungi pendatang dari luar Banten. Sedangkan Pesantrennya merupakan salah satu pesantren tradisional tertua di Kota Serang yang sudah ada sejak awal kemerdekaan tahun 1950an, yang didirikan oleh ulama Banten yang namanya diabadikan sebagai jalan di dekat sekolahannya.

Dulu, saat pertama kali tiba di Kota ia memutuskan sekolah sambil mondok, tujuannya untuk menambah ilmu agama juga meringankan biaya. Sebab Fajar tau biaya hidup di Kota tak murah, dibanding indekos Rp 400-500 ribu perbulan, mondok dengan iuran listrik Rp 80 ribu perbulan tentu jauh lebih ringan. Selain itu faktor geografis juga menjadi alasan, jarak pesantren dan sekolahnya kurang dari satu kilometer yang membuat ia bisa berjalan kaki ke sekolah, lebih hemat dan efisien. Jadi, Fajar sekolah sambil mondok dimana pondok pesantren tempat ia mengaji, belajar kitab kuning, ilmu-ilmu agama, dan tinggal selama hidup di Kota. Sementara sekolah tempat belajar ilmu pengetahuan lainnya yang tidak didapat di pesantren.

***

Liburan Ramadan selama sebulan sudah usai. Artinya Fajar harus segera kembali ke pesantren. Tak seperti biasanya, kali ini ia harus kembali dengan perasaan sedih. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani palawija sakit keras, yang membuatnya tak bisa pergi bekerja di lahan milik Pak Kades. Padahal menjadi buruh merupakan satu-satunya pemasukan keluarga mereka. Ibunya yang buta huruf, tidak bekerja. Kadang, hanya membantu menyeterika pakaian tetangga dengan upah tak seberapa. Fajar sebetulnya masih ingin bertahan, menunda kembali ke pesantren untuk membantu orang tuanya di rumah. Tapi dorongan Ayah dan Ibunya untuk tetap kembali ke pesantren membuat Fajar luluh juga.

Fajar pun kembali ke pesantren meski hati tak tega meninggalkan Ayahnya di rumah yang sedang sakit. Fajar pergi dengan perahu kecil yang biasa sepekan dua kali datang ke pulau tempat ia tinggal, berangkat bersama 6 penumpang lainnya. Setelah menaiki perahu, selama beberapa menit Fajar terdiam. 

"Kunaon lur ?" tanya Farhan temannya yang penasaran, kebetulan temannya itu hendak pergi ke Kota juga untuk bekerja.

"Teu nanaon, han" jawab Fajar sambil menatap temannya itu. 

Air mata hampir jatuh dari matanya, tapi ia sebisa mungkin menahan buliran air mata itu jatuh ke pipinya.

Di perjalanan Fajar tak banyak bicara, pemandangan indah laut biru dengan ombak yang tenang ditambah burung-burung camar yang beterbangan menuju ke tepi pantai cukup membuat hatinya gembira, mengilangkan sejenak rasa sedihnya. Tapi itu tak berlangsung lama, sebab seringkali Fajar membayangkan yang tidak-tidak; perahunya bocor, cuaca berubah seketika, awan menjadi gelap gulita, tiba-tiba gelombang ombak datang menerjang, menyapu perahu kecil yang mereka tumpangi, dan mereka tenggelam di lautan lepas. Hal itu cukup membuat ia bergidik merinding seraya beristigfar "Astaghfirullahaldziim... "

Singkat cerita, setelah melalui 2 jam perjalanan, akhirnya perahu yang membawa Fajar tiba di pelabuhan yang dahulu menjadi tempat bersandarnya kapal Cornelis de Houtman ketika VOC pertama kali datang ke Nusantara tahun 1596. Pelabuhan Karangantu namanya. Setelah perahu bersandar ia langsung membayar dan bergegas turun mencari ojek yang akan mengantarkannya ke pesantren. 

"Ojek Kang ?"
"Iya, Cipare ya"
"Siap"

Fajar merogoh saku celananya, terdapat uang pecahan seratusribuan tiga lembar, bekal ia hidup di pesantren. Fajar teringat dengan taktik Pep Guardiola mantan pelatih Barcelona klub favoritnya. Kalo Guardiola punya Tiki Taka, maka Fajar punya teka-teki. Bekal yang ia punya entah bertahan sampai kapan, pun ia tak tau kapan orang tuanya akan mengirimi lagi.

Saat sedang berpikir, sebuah strategi jitu terlintas di otaknya yang kadang-kadang encer. Fajar akan membeli telor satu kilogram. Telor itu akan ia rebus kemudian disimpan di dapur pondok untuk makan selama sepekan kedepan. Jadi ia tinggal memasak nasi, dan lauknya telor rebus itu. Satu kali makan satu telor, katakanlah sehari makan dua kali, artinya dalam 7 hari ia akan memakan 12 telor, sebab hari Senin dan Kamis ia akan puasa sehingga cukup makan sekali. Sementara beras persediaannya di pesantren masih ada dan sepertinya cukup untuk beberapa pekan. Dengan begitu Fajar tak perlu makan di warung sehingga bisa menghemat pengeluarannya selama di pesantren.

Setelah 30 menit perjalanan dari pelabuhan, akhirnya Fajar tiba di Pesantren.

"Sudah sampe Kang" kata tukang Ojek
"Okee sip, ini Kang" balas Fajar sambil turun dari motor dan melepas helm. Ia menyerahkan uang pecahan 100rb-an.
"Ini kembaliannya Kang, makasih ya"
"Iya sama-sama", tutup Fajar.

Kedatangannya ke Pesantren disambut Kang Haji Agus, menantu Kyai yang biasa mengajar tilawah Qiro'at Sab'ah.

"Assalamu'alaikum" 
"Wa'alaikumussalam warahmatullah.. Fajar, sehat ?" tanya Kang Haji Agus
"Alhamdulillah sehat, minal Aidin wal Faidzin Kang Haji, mohon maaf lahir batin" 
"Iya sama-sama jar, Kang Haji juga minta maaf yah kalo ada salah-salah kata atau perbuatan"
"Iya Kang Haji", jawab Fajar.

Setelah bersalaman dengan Kang Haji Agus, tak lupa Fajar menemui Kyai Qurthubi, pimpinan Pesantren, untuk melaporkan kedatangannya sekaligus bermaaf-maafan juga.

Hari-hari Fajar di pesantren dilalui seperti biasa, dari pagi jam 7.00 sampai jam 15.00 ia sekolah, sore pulang ke pondok untuk sholat ashar dan ngaji sorogan ke Kyai. Malamnya pengajian kitab kuning, belajar tilawah mujawad, latihan marawis, atau muhadarah, sesuai jadwal pondok setiap malamnya. Diantara itu semua, Fajar lebih senang dengan latihan tilawah mujawad yang diajar oleh cucu Kyai yang merupakan Qori Nasional. Karena sering latihan tilawah mujawad inilah Fajar berkeinginan menjadi seorang Qori. Ia teringat Qori di kampungnya yang sering tampil setiap kegiatan PHBI atau hajatan tetangga. Menurutnya Qori itu keren sekali, membaca Al-Qur'an dengan merdu, membuat orang larut dengan bacaan yang indah dan menentramkan hati. Sudah begitu dapet amplop pula. Motivasinya semakin kuat ketika sering melihat Qori-qori diundang ke Istana Negara, membaca Al-Qur'an, masuk TV, ditonton banyak orang. 

"Barangkali bisa bikin tobat para pejabat itu", batinnya.

Selain latihan tilawah mujawad, Fajar juga semangat jika diberi tugas ceramah saat kegiatan muhadarah. Baginya ceramah saat muhadarah adalah momentum ia show up depan para santri terutama santriwati yang ia sukai. Seperti malam itu, Fajar membawakan materi 'makna syukur', bermodal tulisan kaligrafi di dinding masjid, ia begitu percaya diri menyampaikan ceramahnya. 

"Mang, Teh, liat kaligrafi itu, tulisannya Haadza min fadhli robby liyabluwani a'asykuru am'akfur, artinya: ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur. Kita itu harus banyak bersyukur supaya ga kufur. Mamang Teteh taukan kufur? Kufur itu kalo kita minum, cuci mulut, itu namanya kufur, kufur-kufur"

Ceramahnya yang lebih mirip Stand up comedy itu lumayan menghibur. Lawakannya walaupun garing tapi bisa membuat para santri tertawa miris, sambil bilang "Apa sih??... Apa sih?!"

Kalo kata para senior, yang membuat lucu yang tidak lucunya itu.

***

Tak terasa tiga bulan sudah Fajar lalui tanpa kunjungan dan kiriman orang tua. Bekal uang 300 ribu yang ia bawa dari rumah sudah habis sebulan yang lalu, untuk membeli kitab, bayaran sekolah, iuran listrik pondok, makan, dan lain-lain. Ketika teman sekamarnya sering dikunjungi, Fajar memilih pergi. Ia takut ditanya temannya kenapa tak pernah lagi mendapat kunjungan. Hatinya nelangsa, tapi sebisa mungkin Fajar sabar. Tetap ceria di pesantren. Biasanya Fajar akan pergi ke lapangan Polres Kota Serang yang kebetulan tak jauh dari pesantren, ia bermain sepakbola bersama pemuda Cipare. Berbeda dengan mereka, Fajar biasa bermain tanpa sepatu bola–selain karena tak punya, juga karena kakinya masih sanggup untuk sekedar menendang bola, dan menendang kaki lawan. Sebagai warga pesisir kaki Fajar memang kuat, mungkin terbiasa menginjak karang.

Belakangan Fajar juga sering membaca koran. Kang Haji Maman, menantu Kyai yang bekerja di salah satu instansi pemerintah berlangganan koran lokal dan nasional. Biasanya setelah dibaca, koran-koran itu akan disimpan di meja depan rumahnya untuk dibaca para santri. Fajar paling senang membaca rubrik Sport, karena ia bisa tau pekembangan sepakbola terkini, terutama berita tentang klub favoritnya, Barcelona. Di bagian ini juga sering dimuat meme-meme lucu para pemain bola yang bisa membuat Fajar tertawa terbahak-bahak. Atau foto pacar pemain bola yang berpenampilan seksi. Jika sedang lapar, kadang laparnya langsung hilang, jika sedang pusing karena hafalan surat-surat pendeknya di Al-Qur’an selalu hilang, setelah melihat foto itu hafalannya semakin hilang.

Kegiatan-kegiatan tersebut cukup berhasil menghabiskan waktu Fajar dan menghibur dirinya di saat teman-teman sekamarnya mendapatkan kunjungan dari keluarga mereka. Kadang Fajar ingin menelepon Ayahnya untuk bertanya kabar maupun bertanya terkait kiriman, tapi niat itu selalu diurungkan karena Fajar takut membuat Ayah Ibunya khawatir dengan kondisinya di pesantren. Pun ia sadar kalo Ayahnya sudah sehat dan bisa kembali bekerja, tanpa diminta pun Fajar pasti dikirimi.

Sementara itu, di rumah, ayahnya masih sakit. Berobat dari mantri desa dan meminum obat-obatan tradisional belum bisa menyembuhkannya. Pernah ingin berobat ke Rumah Sakit, tapi jarak yang jauh dan biaya yang mahal membuat orang tua Fajar mengurungkan niat tersebut. Akhirnya di pesantren Fajar pun selalu melalui malam-malam dengan keadaan lapar.

Sering mengalami keadaan lapar tentu tak mudah bagi Fajar, jika tak sabar dan gampang tergoda bisikan setan apapun dilakukan untuk mengenyangkan perut. Pernah suatu waktu, sudah satu hari setengah ia tidak makan. Uangnya sudah habis, pun dengan persediaan berasnya. Perutnya berdendang tanda lama tak terisi, langkahnya gontai. Fajar berniat mencuri beras teman satu kamarnya. Ketika itu semua teman kamarnya sudah berangkat mengaji. "Ini waktu yang tepat, jar." Kalimat itu seolah ada yang membisiki. Dalam agama, mungkin ini yang dinamakan bisikan setan. Atau jin, atau mungkin itu bisikan Fajar sendiri, yang sudah terlampau lama tidak makan. Fajar termotivasi. Tapi, belum sempat Fajar mengambil beras dari karung, Mang Wanda Lurah pesantren menggedor-gedor pintu tetangga kamarnya agar para santri berangkat mengaji di Masjid. Dia ketakutan, lalu bergegas untuk mengaji.

Niat itu akhirnya terkubur setelah di Masjid Kyai Qurthubi membahas tentang Sabar dalam kitab Matan Tanqihul Qoul karya ulama besar Banten yang mendunia, Syeikh Nawawi al-Bantani. Dimana dalam kitab tersebut Syeikh Nawawi mengutip hadist Rasulullah tentang empat macam sabar; Sabar dalam menjalankan yang fardhu, sabar dalam menghadapi musibah, sabar menghadapi gangguan manusia, dan sabar menghadapi kefakiran. Sabar dalam menjalankan yang fardhu adalah taufik, sabar dalam menghadapi musibah berpahala, sabar menghadapi gangguan manusia adalah cinta, dan sabar menghadapi kefakiran adalah ridho Allah ta’ala.

***

Libur semester sekolah sudah tiba. Itu artinya ketersiksaan Fajar selama lima bulan ke belakang segera berakhir. Ia akan izin ke Kyai untuk pulang ke rumah. Setidaknya dengan pulang ia bisa memakan apa saja yang bisa dimakan di rumah, tidak lagi menunggu belas kasihan teman-temannya di pesantren yang menawarinya makan. Semenjak tidak dikirim oleh orang tuanya, Fajar sering merasa hidupnya bagai parasit. Kadang hutang uang kepada temannya, kadang meminta beras, kadang pula mencari sisa-sisa nasi di dapur pesantren yang setengah reyot dengan dinding yang menghitam karena asap. Dengan kepulangan ini selain mengakhiri 'ketersiksaan' di pesantren, ia juga bisa melepas rindu pada Ayah-Ibunya di rumah.

Fajar juga mendapat kabar kalo ia diminta warga di kampungnya menjadi qori untuk kegiatan PHBI. Ia semangat dan begitu antusias untuk segera mempraktikan hasil belajarnya di pesantren selama ini, sudah terlintas dibenaknya akan membaca Surat apa dan maqam apa. Membaca QS. Al-Isra mulai dari ayat 1 dengan maqam Bayati yang berkarakter serius, kemudian Nahawand yang sedih itu, dan terakhir ia akan membaca dengan maqam Jiharkah untuk menggembirakan suasana hatinya.

Akhirnya, kelak semua orang tahu kalau kita punya Qori Internasional bernama Fajar, Juara MTQ Internasional di Iran, Turki, dan Mesir. Sering diundang kegiatan PHBI di Istana Negara, membuat para pejabat menangis sendu, merenungi senandung kalam ilahi yang dilantunkannya. Selama menjadi Qori, ia hanya berharap Ayah Ibunya tersenyum bangga. Dan ia tidak lagi kelaparan.

*Tulisan ini hanyalah fiksi belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat memang disengaja.

Penulis: Alzeiraldy Idzhar Ghifary, Pendidikan Fisika 2017.

   

Selasa, 13 Oktober 2020

Puisi Mata Tua

Oleh: Kartika Ratna Sophia

Ah mata tua itu masih terlihat muda
Sorotnya tajam berani juga membara
Secangkir kopi habis diseruput perlahan
Memori kembali ke masa perjuangan

Mata tua itu menyirat makna
Kisah-kisah mulai kembali dibuka
Menghela nafas menyiapkan kata pembuka
Diriku mendengar serta menyelipkan tanya

Katanya.. 
"Indonesia benarkah sudah merdeka?"
Aku mengangguk mantap merasa
Katanya.. 
"Indonesia dulu dan sekarang tidak berbeda."
Aku diam tercengang menengada
Katanya..
"Indonesia dulu dan sekarang juga tak sama."
Aku masih diam dibuat terperdaya

Aku menanti kalimat selanjutnya
Sayang barangkali dia belum bisa
Bergegas menutup cerita
Meminta aku kembali pada esok senja

Sebelum kaki melangkahi pagar
Dia berkata
"Kan ku cerita kan apa yang tak berbeda dan apa yang tetap sama."

Aku pergi.. Aku masih sama diam
Ah Indonesia mengapa kisahmu
Membuat aku diam seribu bahasa
Membiarkan aku menanti satu malam sahaja

Minggu, 06 September 2020

Yuk, Kenalan dengan Ilmuwan-ilmuwan Islam!


    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Sahabat Shahwah. Bagaimana kabarnya? Masih semangat belajar daringnya? Atau, mulai ngeluh karena kuota menipis, sinyal susah bikin meringis, dan butuh segera piknik untuk menyegarkan psikis? :D Shahwah percaya, pembaca-pembaca Shahwah adalah penuntut ilmu yang tangguh, ikhlas dan tak kenal lelah. Lagipula, Ali bin Abi Thalib dalam Ta’lim Muta’allim juga menjelaskan, setidaknya ada enam syarat dalam menuntut ilmu, di antaranya; kecerdasan, kemauan, kesabaran, biaya, bimbingan guru dan waktu yang tidak sebentar.

    Berbicara tentang ilmu, maka kita juga akan akrab dengan kata ilmuwan. Ya, orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai ilmu. Mungkin kita masih mengenal dengan baik kerut cerdas di dahi Einstein, yang karena temuan teori relativitasnya, namanya bisa kita kenang hingga kini. Mungkin kita juga masih mengenang dengan baik teriakan “Eureka!”nya Archimedes, saat ia berkeliling kota untuk meruahkan bahagian atas setitik-dua titik ilmu yang baru ditemukannya. Atau, mungkin kita juga masih mengingat dengan baik cerita “apel jatuh”nya Newton. Karena sederet temuannyalah yang membuat namanya masih eksis menghiasi lembar-lembar buku sains di rak-rak perpustakaan kita. 

    Kita semua sepakat, bahwa nama-nama di atas dikenang dan dimonumenkan sejarah karena ilmu, karena temuan-temuan mereka yang berguna untuk kemaslahatan hidup manusia hingga saat ini. Tapi, apakah kita masih mengetahui dengan baik pula, bahwa Islam juga punya sederet nama yang tak kalah kilaunya dibanding nama-nama di atas dalam rentang sejarah keilmuan? Sebutlah Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Alkhawarizmi, al-Haitam dan masih banyak lagi. Kenanglah temuan-temuan mereka yang menyejarah, tentang filsafat, ekonomi, kedokteran, sains, astronomi, hingga penemuan angka nol. Di sini Shahwah akan ulas sedikit dari banyaknya ilmuwan Islam yang sangat berpengaruh dalam perjalanan ilmu pengetahuan di dunia. Siapa tahu kamu mengidolakan salah satunya. Ini diaa!

  1. Ibnu Sina

Ibnu Sina merupakan seorang ilmuwan muslim dunia yang berkontribusi besar dalam bidang kedokteran. Pemilik nama lengkap Abu Ali al-Huseyn bin Abdullah bin Hasan Ali bin Sina ini lahir di bulah Shafar 370 H atau Agustus 980 M. Beliau telah melakukan penelitian besar yang diabadikan oleh sejarah ilmu kedokteran dunia. Ibnu Sina memiliki semangat belajar yang tinggi, berbagai bidang ilmu beliau pelajari. Tidak hanya belajar di bidang kedokteran, Ibnu Sina juga mempelajari bidang teologi dan matematika, sehingga tidak mengherankan apabila di usia 16 tahun beliau menjadi pusat perhatian para dokter pada zamannya. Tidak hanya itu, Ibnu Sina juga merupakan salah seorang yang pertama kali menemukan cara pengobatan bagi orang yang sakit dengan cara menyuntikkan obat ke tubuh penderita, maka tidak heran apabila beliau diberi julukan al-Ra’s atau puncak gunung pengetahuan (m.merdeka.com).

  1. Alkhawarizmi

Ilmuwan muslim yang berpengaruh di dunia lainnya adalah Alkhawarizmi. Beliau dikenal sebagai salah satu ilmuwan muslim yang berkontribusi besar di bidang matematika, geografi dan astronomi. Salah satu penemuan dari Alkhawarizmi adalah menciptakan pemakaian Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Tidak hanya itu, beliau juga ahli di bidang yang lain seperti filsafat, aritmatika, musik, geometri, sejarah Islam dan kimia. Alkhawarizmi juga merupakan seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan Aljabar dan hisab (m.merdeka.com)

  1. Jabir Ibn-Hayyan

Jabir Ibn-Hayyan merupakah ilmuwan muslim berpengaruh yang sering disebut sebagai “the father of modern chemistry”. Beliau seorang ahli di bidang kimia, fisika dan farmasi yang telah mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi. Beberapa penemuannya di bidang kimia telah menjadi dasar bagi berkembangnya ilmu kimia moderen saat ini. Tidak hanya itu, Jabir Ibn-Hayyan dapat mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia ke dalam proses pembuatan logam dan besi (m.merdeka.com).

  1. Al-Zahrawi

Al-Zahrawi juga merupakan salah satu ilmuwan muslim terkenal di dunia. Beliau seorang tokoh yang meletakkan dasar-dasar ilmu bedah modern. Hingga kini karya-karya dan pemikirannya dijadikan kurikulum pendidikan kedokteran di Eropa. Beliau merupakan keturunan Arab Ansar yang menetap di Spanyol. Al-Zahrawi dikenal sebagai salah satu ilmuwan muslim yang paling jenius di zamannya (m.merdeka.com).

  1. Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun merupakan seorang sejarawan dan sosiolog Islam yang terkenal di dunia. Sejak kecil, Ibnu Khadun sudah dikenal sebagai seorang yang hafal Quran, maka tak heran apabila beliau mampu melahirkan karya-karya yang luar biasa. Jauh sebelum ilmuwan Barat menemukan berbagai macam teori ilmu sosialnya, Ibnu Khaldun melalui kitab Muqaddimah sudah menelurkan teori-teorinya dengan lengkap dan ilmiah. Teori-teorinya tentang berbagai studi ilmu pengetahuan merupakan temuan revolusioner yang diakui mendahului sekaligus dirujuk oleh para pemikir besar dunia, seperti Adam Smith, Max Weber, dan Arnold Y Toynbee. Karena itu, tak heran jika Ibnu Khaldun diakui sebagai bapak ilmu sosial, ekonomi, dan sejarah. Dalam pembukaan muqaddimah, Ibnu Khaldun mengawalinya dengan menjelaskan karakteristik bangsa-bangsa yang akan ia tulis. Ibnu Khaldun bahkan menjelaskan sampai pada posisi geografinya, jumlah musim hingga cuaca. Kitab Muqaddimah ini selesai ditulis pada 1337 Masehi, tapi gagasan Ibnu Khaldun dalam buku ini masih relevan untuk diaplikasikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang muncul pada era digital ini. Kitab Muqaddimah disusun dengan sistematis, mulai dari membahas lingkungan fisik manusia, diskusi tentang organisasi sosial primitif, hubungan mereka dengan bentuk kehidupan urban yang lebih maju, hingga pemerintahan dan negara sebagai bentuk tertinggi organisasi sosial manusia. (republika.co.id)

  1. Ibnu al-Haytam

Membicarakan Optik, maka tak bisa dilepaskan dari seorang ilmuwan muslim bernama Ibnu Al-Haytam. Beliau dijuluki Bapak Optik. Salah satu bukunya, al-Manazir diakui sebagai rujukan ilmu optic di dunia. Selain menguasai ilmu optik, Ibnu al-Haytam juga menguasai filsafat. Apalagi diperkirakan ada lebih dari dua ratus buku tentang berbagai aspek alam telah ditulisnya. Di dalam kitab al-Manazir, dia adalah ilmuwan pertama yang mampu menjelaskan bagaimana cara kerja optik pada mata manusia dalam menangkap dan menerima gambar atau visual secara detil (m.cnnindonesia.com).

Nah, setelah mengetahui ilmuwan-ilmuwan muslim yang telah Shahwah tulis di atas, Ilmuwan manakah yang paling kamu idolakan? Shahwah do’akan, semoga kamu menjadi penerus mereka, ya. Menjadi ilmuwan muslim yang berpengaruh di dunia. 

Islam sendiri sangat memuliakan ilmu. Ayat Quran yang pertama turun adalah jembatan antara manusia dengan ilmu pengetahuan; perintah membaca. Sebagaimana yang kita tahu, menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Allah juga meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ilmu lebih utama daripada harta, begitu kata Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi yang dijuluki pintu gerbang dari ilmu pengetahan. Beliaupun memaparkan beberapa alasannya, di antaranya; karena ilmu adalah warisan para Nabi, sementara harta adalah warisan Qarun dan Fir’aun. Ilmu dapat menjaga pemiliknya, sedangkan harta harus dijaga pemiliknya. Orang kaya harta banyak musuhnya, sedangkan orang yang kaya ilmu banyak sahabatnya. Harta kalau dibelanjakan maka akan berkurang dan habis, sedangkan ilmu kalau diberikan malah semakin bertambah. Orang yang kaya harta dipanggil bakhil, sedangkan orang yang banyak ilmunya disebut agung.  Ilmu tidak perlu penjagaan dari pencuri, sedangkan harta harus dijaga dari pencuri. Pada hari kiamat, orang yang banyak harta akan dihisab mengenai hartanya, sedangkan orang yang berilmu dapat memberikan syafaat pada hari kiamat. Harta bisa habis dan rusak, sedangkan ilmu tidak akan habis dan tidak akan rusak. 

Sahabat, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi ilmu, lalu ilmu itu membuat kita semakin merunduk dan merasa tidak ada apa-apanya di hadapan Ilmu-Nya yang tidak akan bisa terhingga walau semua kayu di bumi dijadikan pena dan semua lautan dijadikan tintanya. Sekian dulu yang bisa Shahwah sampaikan pada tulisan kali ini. Jangan lupa, tetap setia dengan tulisan-tulisan Shahwah selanjutnya, ya. Wallahualam bishshawab Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 

Referensi

https://m.merdeka.com/jateng/6-ilmuwan-muslim-yang-paling-berpengaruh-di-dunia-wajib-diketahui-kln.html

https://m.republika.co.id/amp/pnjfzs458#aoh=15993090806901&amp_ct=1599309087780&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s

https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20150225111438-199-34692/ibnu-al-haytam-tokoh-islam-yang-disebut-bapak-optik

Penulis: Dini Hanifa, Pendidikan Bahasa Indonesia 2018.

Ingin Ikut Organisasi, tapi...

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, sahabat Shahwah. Bagaimana kabar-Nya? Semoga Rahmat dan petunjuk-Nya selalu menyertai kita kapanpun dan di manapun kita berada. Tidak terasa kita sudah memasuki tahun ajaran baru. Untuk kakak-kakak Shahwah yang sudah semester akhir, semangat mengerjakan skripsinya, ya. Melihat tumpukkan kertas garapan skripsi itu, bagaikan melihat setumpuk pahala yang menanti untuk diraih dengan cara dikerjakan. Untuk teman-teman semester tiga dan lima, ayo, tetap semangat meraih ilmu, menerima materi perkuliahan, meskipun kantung baju jadi terkuras untuk beli kuota dan kantung mata jadi membengkak karena terlalu lama memelototi layar gawai selama belajar di rumah saja. Tak apa, selama kita meniatkan semua karena-Nya, insyaAllah tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Untuk adik-adik yang diterima sebagai mahasiswa baru Untirta tahun ini, kami ucapkan, selamat datang! ☺ Sekarang, gelar siswanya sudah dibubuhi maha, maka semoga beriring dengan pribadi yang mendewasa, bertaqwa dan makin giat menimba setitik-dua titik ilmu dari lautan ilmu-Nya.

    Sahabat, berbicara soal dunia perkuliahan, target-target apa saja yang kamu harapkan selama menjadi mahasiswa? Dapat IPK tinggi? Menjadi aktivis dan ikut berbagai organisasi? Atau, lulus dengan nilai cumlaude dan menjadi mahasiswa berprestasi? Idealnya tentu tiga-tiganya. Tapi kali ini, Shahwah akan membahas yang kedua, yakni kiat-kiat memilih organisasi di kampus agar kehidupanmu sebagai mahasiswa menjadi lebih berwarna. 

    Sebagimana yang kita tahu, mengikuti organisasi itu penting karena dengannya kita bisa mendapatkan berbagai ilmu yang tidak kita dapatkan di  kelas, sedang ilmu tersebut sangat berguna bagi kita di masyarakat. Dengan berorganisasi pula kita bisa punya lebih banyak jaringan yang akan banyak membantu kita termasuk saat kita lulus dari bangku perkuliahan dan mulai berkenalan dengan dunia pekerjaan. Banyak di antara mahasiswa yang berencana menjadi aktivis dan sudah menyusun beberapa nama organisasi untuk diikuti. Tapi, tidak sedikit pula mahasiswa yang takut salah masuk organisasi atau bingung memilih organisasi yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Lalu, bagaimana kiat agar kita bisa memilih organisasi yang paling tepat? Berikut beberapa tips yang bisa Shahwah bagikan:

Pertama, pilih organisasi yang bukan hanya membantumu dalam urusan dunia, tapi juga membantumu dalam urusan akhirat. Sebagai seorang muslim, kita mempunyai orientasi yang jelas dalam hidup; orientasi akhirat. Kita sadar bahwa dunia hanya persinggahan, kita sadar bahwa akhirat adalah terminal keabadian. Dunia adalah tempat menabur amal, akhirat adalah tempat memanennya. Di dunia perkuliahan, tidak sedikit hal-hal yang bisa membuat kita lalai akan hakikat tersebut, yang membuat kita terlampau sibuk dengan urusan dunia dan lupa mempersiapkan diri untuk tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Agar kita terhindar dari hal tersebut, kita perlu orang-orang dan lingkungan yang senantiasa mengingatkan kita akan akhirat, salah satunya, dengan mengikuti organisasi. Pilih organisasi yang kamu anggap bisa menjadi sarana dalam ketaatan kepada-Nya.

Kedua, Lihat anggota-anggota dari organisasi yang akan kamu pilih. Sahabat, anggota organisasi merupakan salah satu cerminan dari organisasi itu sendiri. Ada baiknya sebelum memilih suatu organisasi, kamu nilai terlebih dulu bagaimana anggotanya. Apakah mereka baik akhlaknya? Baik agamanya? Baik akademiknya? Apakah kamu bisa menemukan sosok mahasiswa teladan dalam dirinya? Kalau kamu menemukan hal-hal di atas pada diri seorang mahasiswa, boleh jadi karakter itu ia dapatkan dari gemblengan yang ia terima dari organisasi yang diikutinya. 

Ketiga, pilih organisasi yang sesuai dengan minat dan bakatmu. Alhamdulillah.. di kampuus kita tercinta, sudah banyak UKM-UKM yang bisa menjadi pilihan untuk mengasah bakat-bakat mahasiswa. Kamu suka bela diri? Ikutlah UKM bela diri. Kamu suka olahraga? Tinggal mendaftar UKM olahraga. Kamu suka menjelajah di alam bebas? Mungkin UKM Mapala bisa menjadi pilihanmu. Atau, kamu ahli berdakwah dan membaca Quran dengan nada indah? Rohis kampuslah mungkin tempat mengasah bakatmu. Selain bisa mengasah potensi, mengikuti organisasi yang sesuai dengan minat dan bakat juga bisa menjadi jembatan bagimu untuk mengembangkan hobimu jadi prestasi, lho! Selain, tentu saja dengan begitu, kamu juga bisa lebih menikmati aktivitasmu di organisasi tersebut. 

Keempat, Minta pendapat dari orang-orang terdekat yang kamu percaya. Kamu punya kenalan kakak tingkat atau teman sekelas yang menurutmu menjadi cerminan mahasiswa teladan dan orang itu sudah sangat kamu percaya? Mungkin, kamu bisa meminta pendapat padanya. Orang-orang yang baik insyaAllah akan menunjukkanmu jalan-jalan kebaikan pula. 

Kelima, berdoa dan meminta petunjuk pada Allah. Dia yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Maka selalulah minta dipilihkan padanya, karena pilihan-Nya tidak pernah salah.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka pada jalan yang lurus.” (QS. an-Nisa: 66-68)

Baiklah sahabat, hanya itu yang bisa Shahwah sampaikan pada tulisan kali ini. Semoga kiat-kiat yang telah dipaparkan di atas bermanfaat buatmu yang masih bimbang dalam memilih organisasi, ya. Ikuti terus tulisan-tulisan Shahwah berikutnya! Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh..


Penulis: Dini Hanifa, Pendidikan Bahasa Indonesia 2018.

   


Jumat, 08 Mei 2020

Al-Qur'an, Ramadhan, dan Pesan Kemanusiaan


"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Bulan Ramadhan 1441 Hijriyah sudah memasuki hari ke-16, kurang lebih dua pekan lagi kaum muslimin menjalani ibadah puasa. Sebagai bulan yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan tentu sayang jika dilewatkan begitu saja, mesti ada kesan yang bermakna sebelum kita melepas kepergiannya. Karena itu di sisa waktu Ramadhan, selain berupaya menuntaskan target amalan yang direncanakan, ada baiknya kita coba memahami lagi hikmah, dan tujuan dari puasa itu sendiri.

Imam Ibnu Rajab –dalam Lathaiful Ma'arif– mengatakan "Puasa disyari'atkan agar yang berkecukupan turut merasakan bagaimana rasanya lapar sehingga dia akan mengingat mereka yang tengah kelaparan." Senada dengan Imam Ibnu Rajab, Muhammad Asad, seorang mufassir kelahiran Ukraina –dalam The Message of the Qur'an– menyampaikan setidaknya ada tiga tujuan umum dari puasa Ramadhan. Pertama, untuk mengenang permulaan Wahyu Al-Qur'an yang terjadi pada bulan Ramadhan, sekitar 13 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Kedua, untuk memberikan latihan disiplin, dan ketiga, untuk membuat setiap orang menyadari lewat pengalamannya sendiri merasakan dahaga dan lapar, sehingga dengan cara itu diperoleh definisi hakiki tentang keperluan orang miskin. 

Tentang orang miskin, Buya Syafi'i Ma'arif mengungkapkan bahwa Al-Quran adalah kitab suci yang pro orang miskin, tetapi anti kemiskinan pada waktu yang sama. Maksudnya, kemiskinan harus bersifat sementara tak boleh mengitari hidup sepanjang hayat. Perintah mengeluarkan ZIS (zakat, infak, sedekah) adalah bukti umat Islam tidak boleh miskin. 

Dan memang jika kita mentadabburi ayat-ayat Al-Quran, perintah sholat misalnya, sering kali diiringi dengan perintah zakat. Aqimisholah wa atuzzakah "Dirikan sholat dan tunaikan zakat", ini menandakan bahwa sholat sebagai ibadah spiritual seorang hamba dengan Allah tak bisa terlepas dari keharusan untuk peduli pada kondisi masyarakat di sekitarnya.

Dengan demikian, hikmah dari puasa Ramadhan adalah selain untuk ikut merasakan haus dan lapar seperti yang dirasakan orang miskin, juga supaya orang berpuasa tidak melupakan mereka. Apalagi Ramadhan sering disebut sebagai bulan kemurahan (syahrul judd), dimana banyak keutamaan bagi orang yang bermurah hati, menolong dan membantu sesama. Dan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengeluarkan ZIS (zakat, infak, sedekah) kepada orang yang membutuhkan, sebagai wujud filantropi dalam Islam sekaligus instrumen penting dalam upaya pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial.

***

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183).

Setiap ibadah dalam Agama Islam selalu mengandung dimensi ketuhanan (hablum minAllah) dan dimensi kemanusiaan (hablum minannas), begitupun ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dimensi ketuhanan dalam ibadah puasa sebagaimana Allah sampaikan, bahwa puasa Ramadhan itu adalah milik Allah dan Allah yang akan memberikan balasannya. Sementara dimensi kemanusiaannya ada pada solidaritas untuk ikut merasakan haus dan lapar seperti yang dirasakan orang miskin.

Kemanusiaan sendiri adalah pesan mulia yang menjadi esensi dari ajaran Islam. Bahkan Allah menegaskan dalam QS. Al-Ma'un bahwa celakalah orang yang melaksanakan sholat namun mengabaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, dan disebut sebagai; yukazzibu biddiin, orang yang mendustakan Agama (menghardik anak yatim, tidak memberi orang miskin, dan enggan memberi bantuan). 

Kemudian, jika merujuk pada ayat di atas (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183) tujuan utama dari puasa adalah agar bertakwa, la'allakum tattaquun. Dimana dalam Al-Qur'an banyak ayat yang menyampaikan kriteria seseorang disebut bertakwa, salah satunya (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177) :
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."

Berdasarkan ayat di atas, Al-Quran menggambarkan orang yang bertakwa itu selain beriman kepada Allah, hari akhir, kitab-kitab, para malaikat dan beriman kepada para nabi. Serta mendirikan shalat (ibadah individual), juga mau memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, yang memerlukan pertolongan, orang yang meminta-minta, memerdekakan hamba sahaya, menunaikan zakat, menepati janji, serta bersabar dalam kesempitan dan penderitaan (ibadah sosial). 

Hal tersebut menunjukan bahwa dalam Islam kesholehan individual dan kesholehan sosial harus saling berhubungan erat, terintegrasi, tak boleh dipisahkan sebagai syarat seorang muslim disebut bertakwa. Konsep dan gagasan inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Prof. Amien Rais –Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah– dengan istilah Tauhid Sosial. Paradigma tauhid yang mengajarkan bagaimana orang bertauhid berdampak pada perubahan sosial dan adanya keberpihakan pada kaum tertindas, lemah, dan orang-orang miskin (mustadafin dhuafa wal masakin). Artinya, dikatakan umat Islam yang baik apabila senantiasa memposisikan secara beriringan antara ibadah individual dan ibadah sosial, antara hablum minAllah dan hablum minannas.

Saat ini kita malalui bulan Ramadhan di tengah Pandemi Covid-19, yang diprediksi masih akan terus berlangsung hingga beberapa bulan kedepan. Belakangan kita pun tak asing mendengar berita karyawan di-PHK oleh perusahannya, para pedagang yang kehilangan penghasilan, pengemudi transportasi online dan angkutan umum yang sepi penumpang, hingga orang-orang yang terjebak di tanah perantauan karena larangan mudik oleh Pemerintah.

Akibat Pandemi Covid-19 ada banyak pengangguran baru lahir, orang miskin bertambah, dan dampak lainnya pada kehidupan masyarakat. Pada situasi seperti ini, rasa kemanusiaanlah yang membuat kita memiliki empati dan kepedulian terhadap beragam permasalahan tersebut.

Dan ini menjadi kesempatan untuk kita lebih memaknai Ramadhan sebagai bulan kemurahan (syahrul judd) bermurah hati menolong dan membantu sesama. Dalam konteks ini, puasa yang diharapkan dapat membentuk kaum muslimin pada proses kesholehan individual bisa ditransformasikan menjadi kesholehan sosial yang berpihak pada cinta kasih kemanusiaan sebagai manifestasi ketakwaan pada sang maha Kuasa. 

Ramadhan kali ini selain sebagai medium taqarrub kepada Allah juga momentum untuk kita lebih bermanfaat dengan membantu orang-orang yang membutuhkan dan kesulitan di sekitar. Momentum untuk kita menunjukan keberpihakan pada kaum tertindas, lemah, dan orang-orang miskin (mustadafin dhuafa wal masakin). Sesungguhnya solidaritas, sinergisitas dan semangat saling membantulah yang membuat kita kuat dan mampu menghadapi situasi ini. 

Puasa Ramadhan mendidik manusia untuk memancarkan kepedulian dan empati pada sesama, membuang egoisme, serta menjadikan seseorang bersih jiwanya. Karena itu, hendaknya puasa Ramadhan juga menjadi momentum evaluatif–konstruktif atas proses keberagamaan kita selama sebelas bulan kebelakang, dan menjadi momentum aktualisasi diri dalam pola kehidupan sehari-hari terutama dalam membumikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai implementasi misi Islam rahmatan lil 'alamin. 

Sehingga pada titik ini kita mampu mengkorelasikan antara Al-Qur’an, Ramadhan, dan pesan mulia kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana disampaikan Rasulullah: "Khoirunnas Angfauhum Linnas, sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya." Wallahu a'lam..


Penulis: Alzeiraldy Idzhar Ghifary, Pendidikan Fisika 2017.

Jumat, 10 April 2020

Cerpen Ramadhan : Tidak Ada Kurma di Rumah Kami


Langit tengah merundung, dibalik rimbun pepohonan awan-awan terlihat mendung, diikuti rintik hujan yang tak terhitung. Dari kejauhan, seorang pria setengah baya mengendarai motornya, hanya 100 meter lagi sampai pada rumahnya, menghindari anak hujan yang semakin beranak pinak.

Sesampainya di rumah, lelaki berjaket  hijau hitam itu melepas senyum pada anak istrinya. Biasanya sepulang kerja ia tidak pernah absen untuk memeluk putri kecilnya terlebih dahulu, akan tetapi sebulan ini ia tak melakukan itu, hanya memberi salam dan senyum, setelah itu ia bergegas mandi dan mencuci pakaiannya.

Adzan maghrib berkumandang, semua tengah berkumpul di ruang makan. Di balik tudung saji itu, terhidang nasi dan sedikit kerupuk bekas kemarin. Puteri kecilnya dengan riang mengunyah kerupuk itu, tetapi si kakak hanya cemberut melihat makanan yang tersedia, sedangkan ayah ibunya hanya tersenyum melihat tingkah laku anaknya.

Diteguknya segelas air putih pelepas dahaga, belum sampai air itu masuk ke tenggorokan, ia sudah terbatuk-batuk mendengar anak sulungnya, Najma, menggebrak meja, memecah kehangatan keluarga itu.

"AYAH, NAJMA TIDAK MAU MAKAN!" seru si anak dengan penuh amarah.

"Kenapa, Nak?" Ibunya yang  sedikit terkejut, turut memberikan perhatian pada Najma, anak berusia 9 tahun itu.

"Najma benci sama ayah, dari kemarin, kemarinnya lagi, teruuus kemarinnya lagi, ayah bilang bakalan beliin Najma kurma kalau Najma puasa penuh. Tiap hari Najma puasa penuh, tapi ayah selalu lupa beliin Najma kurma," ungkap Najma sambil terisak, "selalu saja yang ada dipiring cuma kerupuk doang, Najma bosen, Najma pengen kayak Sely. Tiap hari Sely selalu bilang makan ini lah, makan itu lah, tapi Najma? Cuma pengen kurma aja, ayah gak mau beliin!"

Ayahnya menunduk, perasaan bersalah mungkin menyeruak di dadanya. Tapi ia tidak menunjukkan kelemahannya itu pada Najma. Dipeluknya Najma yang tengah kesal pada ayahnya, tetapi Najma melepas pelukan itu dengan kasar, ia berlari ke kamar dengan perut kosong yang tak ingin diisi apapun selain kurma.

Si kecil, Aira hanya melohok menyaksikan drama keluarganya, ia terus memakan kerupuk itu dengan diberi kecap, sehingga tangan dan pipinya kotor.

"Ayah sih, kenapa tidak beliin Najma kurma?" tanya si Ibu menelisik.

"Tiga hari ini ayah tidak pernah mendapat orderan, di musim wabah seperti ini, siapa yang mau naik ojek ayah."

"Tapi ojol yang lain dapet orderan mulu tuh!"

"Mungkin belum rezekinya ayah aja, Bu."

"Terus gimana dong itu si Najma gak mau makan?"

"Yasudah, abis isya ayah ngojek lagi deh. Ibu dan Aira jangan keluar ya, maaf malem ini ayah gak bisa ngimamin sholat tarawih kalian."

Istrinya hanya mengangguk, segera setelah membereskan piring dan membersihkan Aira, ia membawa sepiring nasi dan kerupuk untuk Najma siapa tahu ia mau makan.

"Najma, Nak, makan dulu sayang. Ntar krupuknya abis dimakan Aira, loh!" ujar Ibunya yang tengah menggendong Aira.

"Pokoknya Najma gak mau makan sebelum Najma makan kurma." Najma masih bersikeras tidak ingin makan, bahkan matanya malas untuk menatap nasi dengan kerupuk sialan itu.

"Nak, bentar lagi ayah bawa kurma, Kok. Sekarang lagi beli, makan dulu yah?" Disodorkannya sepiring nasi itu pada Najma yang tengah tiduran di kasur. Najma meraih piring itu dan melemparkannya ke lantai.

"Pokoknya Najma gak mau makan!" ucapnya dengan marah. Lalu ia kembali tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ibunya hendak marah pada Najma, tapi tidak jadi dilakukannya. Aira mencairkan suasana, dipungutinya nasi tumpah itu dan dimakannya. Gadis kecil berusia tiga tahun itu asyik memakan nasi tumpah dan kerupuk milik kakaknya. Ibunya gemas, Najma benar-benar tak akan makan karena kerupuknya sudah dihabiskan Aira.

***

Harap-harap cemas menyelimuti malam itu. Pukul 2 malam suaminya tak kunjung pulang. Matanya masih menganga menunggu sang suami pulang, hingga ia tertidur di ruang makan.

Derit pintu membangunkannya, suaminya pulang dengan penuh gembira, digenggamnya plastik hitam yang cukup besar. Hampir saja ia akan memeluk istrinya dengan bangga tapi sang istri segera menghindar. Ia mengingatkan agar suaminya mandi terlebih dahulu, di musim wabah ini mereka harus amat berhati-hati.

Istrinya segera membangunkan Najma, Najma  senang tak terkira, bahwa yang ia inginkan dari dua minggu yang lalu telah ada. Akhirnya Najma mau makan walau hanya dengan kecap saja.

Najma kembali riang seperti biasanya, ia banyak bertanya pada ayahnya dari mana kurma sebanyak itu ia dapatkan. Ayahnya hanya tersenyum kecut, menyembunyikan perjuanganannya berperang ditengah wabah. Ia hanya mengatakan bahwa kurma itu adalah hadiah yang Allah turunkan khusus untuk Najma karena telah berpuasa penuh selama dua minggu.

Najma semakin senang dan akan berpuasa dengan semangat lagi, tentu saja ia akan bercerita pada Sely kalau ramadhan ini di rumahnya juga ada kurma.


Penulis: Siti Umyati, Pendidikan Kimia 2019.

Peran Kiayi dalam Peristiwa Geger Cilegon 1888

Oleh: Imas Mufliha (Pendidikan Sejarah 2019) Pada tahun 1882-1884 Banten ditimpa dua malapetaka besar, yaitu meletusnya Gunung...