Fajar namanya, anak rantau dari sebuah pulau kecil di perbatasan Banten dan Jakarta. Sudah 2 tahun ia sekolah sambil mondok di Kota Serang-Banten, daerah yang disebut tanah seribu ulama, sejuta santri. Fajar sekolah di sebuah Madrasah Aliyah Swasta dekat Masjid Agung Kota yang biasa ramai dikunjungi pendatang dari luar Banten. Sedangkan Pesantrennya merupakan salah satu pesantren tradisional tertua di Kota Serang yang sudah ada sejak awal kemerdekaan tahun 1950an, yang didirikan oleh ulama Banten yang namanya diabadikan sebagai jalan di dekat sekolahannya.
Dulu, saat pertama kali tiba di Kota ia memutuskan sekolah sambil mondok, tujuannya untuk menambah ilmu agama juga meringankan biaya. Sebab Fajar tau biaya hidup di Kota tak murah, dibanding indekos Rp 400-500 ribu perbulan, mondok dengan iuran listrik Rp 80 ribu perbulan tentu jauh lebih ringan. Selain itu faktor geografis juga menjadi alasan, jarak pesantren dan sekolahnya kurang dari satu kilometer yang membuat ia bisa berjalan kaki ke sekolah, lebih hemat dan efisien. Jadi, Fajar sekolah sambil mondok dimana pondok pesantren tempat ia mengaji, belajar kitab kuning, ilmu-ilmu agama, dan tinggal selama hidup di Kota. Sementara sekolah tempat belajar ilmu pengetahuan lainnya yang tidak didapat di pesantren.
***
Liburan Ramadan selama sebulan sudah usai. Artinya Fajar harus segera kembali ke pesantren. Tak seperti biasanya, kali ini ia harus kembali dengan perasaan sedih. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani palawija sakit keras, yang membuatnya tak bisa pergi bekerja di lahan milik Pak Kades. Padahal menjadi buruh merupakan satu-satunya pemasukan keluarga mereka. Ibunya yang buta huruf, tidak bekerja. Kadang, hanya membantu menyeterika pakaian tetangga dengan upah tak seberapa. Fajar sebetulnya masih ingin bertahan, menunda kembali ke pesantren untuk membantu orang tuanya di rumah. Tapi dorongan Ayah dan Ibunya untuk tetap kembali ke pesantren membuat Fajar luluh juga.
Fajar pun kembali ke pesantren meski hati tak tega meninggalkan Ayahnya di rumah yang sedang sakit. Fajar pergi dengan perahu kecil yang biasa sepekan dua kali datang ke pulau tempat ia tinggal, berangkat bersama 6 penumpang lainnya. Setelah menaiki perahu, selama beberapa menit Fajar terdiam.
"Kunaon lur ?" tanya Farhan temannya yang penasaran, kebetulan temannya itu hendak pergi ke Kota juga untuk bekerja.
"Teu nanaon, han" jawab Fajar sambil menatap temannya itu.
Air mata hampir jatuh dari matanya, tapi ia sebisa mungkin menahan buliran air mata itu jatuh ke pipinya.
Di perjalanan Fajar tak banyak bicara, pemandangan indah laut biru dengan ombak yang tenang ditambah burung-burung camar yang beterbangan menuju ke tepi pantai cukup membuat hatinya gembira, mengilangkan sejenak rasa sedihnya. Tapi itu tak berlangsung lama, sebab seringkali Fajar membayangkan yang tidak-tidak; perahunya bocor, cuaca berubah seketika, awan menjadi gelap gulita, tiba-tiba gelombang ombak datang menerjang, menyapu perahu kecil yang mereka tumpangi, dan mereka tenggelam di lautan lepas. Hal itu cukup membuat ia bergidik merinding seraya beristigfar "Astaghfirullahaldziim... "
Singkat cerita, setelah melalui 2 jam perjalanan, akhirnya perahu yang membawa Fajar tiba di pelabuhan yang dahulu menjadi tempat bersandarnya kapal Cornelis de Houtman ketika VOC pertama kali datang ke Nusantara tahun 1596. Pelabuhan Karangantu namanya. Setelah perahu bersandar ia langsung membayar dan bergegas turun mencari ojek yang akan mengantarkannya ke pesantren.
"Ojek Kang ?"
"Iya, Cipare ya"
"Siap"
Fajar merogoh saku celananya, terdapat uang pecahan seratusribuan tiga lembar, bekal ia hidup di pesantren. Fajar teringat dengan taktik Pep Guardiola mantan pelatih Barcelona klub favoritnya. Kalo Guardiola punya Tiki Taka, maka Fajar punya teka-teki. Bekal yang ia punya entah bertahan sampai kapan, pun ia tak tau kapan orang tuanya akan mengirimi lagi.
Saat sedang berpikir, sebuah strategi jitu terlintas di otaknya yang kadang-kadang encer. Fajar akan membeli telor satu kilogram. Telor itu akan ia rebus kemudian disimpan di dapur pondok untuk makan selama sepekan kedepan. Jadi ia tinggal memasak nasi, dan lauknya telor rebus itu. Satu kali makan satu telor, katakanlah sehari makan dua kali, artinya dalam 7 hari ia akan memakan 12 telor, sebab hari Senin dan Kamis ia akan puasa sehingga cukup makan sekali. Sementara beras persediaannya di pesantren masih ada dan sepertinya cukup untuk beberapa pekan. Dengan begitu Fajar tak perlu makan di warung sehingga bisa menghemat pengeluarannya selama di pesantren.
Setelah 30 menit perjalanan dari pelabuhan, akhirnya Fajar tiba di Pesantren.
"Sudah sampe Kang" kata tukang Ojek
"Okee sip, ini Kang" balas Fajar sambil turun dari motor dan melepas helm. Ia menyerahkan uang pecahan 100rb-an.
"Ini kembaliannya Kang, makasih ya"
"Iya sama-sama", tutup Fajar.
Kedatangannya ke Pesantren disambut Kang Haji Agus, menantu Kyai yang biasa mengajar tilawah Qiro'at Sab'ah.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah.. Fajar, sehat ?" tanya Kang Haji Agus
"Alhamdulillah sehat, minal Aidin wal Faidzin Kang Haji, mohon maaf lahir batin"
"Iya sama-sama jar, Kang Haji juga minta maaf yah kalo ada salah-salah kata atau perbuatan"
"Iya Kang Haji", jawab Fajar.
Setelah bersalaman dengan Kang Haji Agus, tak lupa Fajar menemui Kyai Qurthubi, pimpinan Pesantren, untuk melaporkan kedatangannya sekaligus bermaaf-maafan juga.
Hari-hari Fajar di pesantren dilalui seperti biasa, dari pagi jam 7.00 sampai jam 15.00 ia sekolah, sore pulang ke pondok untuk sholat ashar dan ngaji sorogan ke Kyai. Malamnya pengajian kitab kuning, belajar tilawah mujawad, latihan marawis, atau muhadarah, sesuai jadwal pondok setiap malamnya. Diantara itu semua, Fajar lebih senang dengan latihan tilawah mujawad yang diajar oleh cucu Kyai yang merupakan Qori Nasional. Karena sering latihan tilawah mujawad inilah Fajar berkeinginan menjadi seorang Qori. Ia teringat Qori di kampungnya yang sering tampil setiap kegiatan PHBI atau hajatan tetangga. Menurutnya Qori itu keren sekali, membaca Al-Qur'an dengan merdu, membuat orang larut dengan bacaan yang indah dan menentramkan hati. Sudah begitu dapet amplop pula. Motivasinya semakin kuat ketika sering melihat Qori-qori diundang ke Istana Negara, membaca Al-Qur'an, masuk TV, ditonton banyak orang.
"Barangkali bisa bikin tobat para pejabat itu", batinnya.
Selain latihan tilawah mujawad, Fajar juga semangat jika diberi tugas ceramah saat kegiatan muhadarah. Baginya ceramah saat muhadarah adalah momentum ia show up depan para santri terutama santriwati yang ia sukai. Seperti malam itu, Fajar membawakan materi 'makna syukur', bermodal tulisan kaligrafi di dinding masjid, ia begitu percaya diri menyampaikan ceramahnya.
"Mang, Teh, liat kaligrafi itu, tulisannya Haadza min fadhli robby liyabluwani a'asykuru am'akfur, artinya: ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur. Kita itu harus banyak bersyukur supaya ga kufur. Mamang Teteh taukan kufur? Kufur itu kalo kita minum, cuci mulut, itu namanya kufur, kufur-kufur"
Ceramahnya yang lebih mirip Stand up comedy itu lumayan menghibur. Lawakannya walaupun garing tapi bisa membuat para santri tertawa miris, sambil bilang "Apa sih??... Apa sih?!"
Kalo kata para senior, yang membuat lucu yang tidak lucunya itu.
***
Tak terasa tiga bulan sudah Fajar lalui tanpa kunjungan dan kiriman orang tua. Bekal uang 300 ribu yang ia bawa dari rumah sudah habis sebulan yang lalu, untuk membeli kitab, bayaran sekolah, iuran listrik pondok, makan, dan lain-lain. Ketika teman sekamarnya sering dikunjungi, Fajar memilih pergi. Ia takut ditanya temannya kenapa tak pernah lagi mendapat kunjungan. Hatinya nelangsa, tapi sebisa mungkin Fajar sabar. Tetap ceria di pesantren. Biasanya Fajar akan pergi ke lapangan Polres Kota Serang yang kebetulan tak jauh dari pesantren, ia bermain sepakbola bersama pemuda Cipare. Berbeda dengan mereka, Fajar biasa bermain tanpa sepatu bola–selain karena tak punya, juga karena kakinya masih sanggup untuk sekedar menendang bola, dan menendang kaki lawan. Sebagai warga pesisir kaki Fajar memang kuat, mungkin terbiasa menginjak karang.
Belakangan Fajar juga sering membaca koran. Kang Haji Maman, menantu Kyai yang bekerja di salah satu instansi pemerintah berlangganan koran lokal dan nasional. Biasanya setelah dibaca, koran-koran itu akan disimpan di meja depan rumahnya untuk dibaca para santri. Fajar paling senang membaca rubrik Sport, karena ia bisa tau pekembangan sepakbola terkini, terutama berita tentang klub favoritnya, Barcelona. Di bagian ini juga sering dimuat meme-meme lucu para pemain bola yang bisa membuat Fajar tertawa terbahak-bahak. Atau foto pacar pemain bola yang berpenampilan seksi. Jika sedang lapar, kadang laparnya langsung hilang, jika sedang pusing karena hafalan surat-surat pendeknya di Al-Qur’an selalu hilang, setelah melihat foto itu hafalannya semakin hilang.
Kegiatan-kegiatan tersebut cukup berhasil menghabiskan waktu Fajar dan menghibur dirinya di saat teman-teman sekamarnya mendapatkan kunjungan dari keluarga mereka. Kadang Fajar ingin menelepon Ayahnya untuk bertanya kabar maupun bertanya terkait kiriman, tapi niat itu selalu diurungkan karena Fajar takut membuat Ayah Ibunya khawatir dengan kondisinya di pesantren. Pun ia sadar kalo Ayahnya sudah sehat dan bisa kembali bekerja, tanpa diminta pun Fajar pasti dikirimi.
Sementara itu, di rumah, ayahnya masih sakit. Berobat dari mantri desa dan meminum obat-obatan tradisional belum bisa menyembuhkannya. Pernah ingin berobat ke Rumah Sakit, tapi jarak yang jauh dan biaya yang mahal membuat orang tua Fajar mengurungkan niat tersebut. Akhirnya di pesantren Fajar pun selalu melalui malam-malam dengan keadaan lapar.
Sering mengalami keadaan lapar tentu tak mudah bagi Fajar, jika tak sabar dan gampang tergoda bisikan setan apapun dilakukan untuk mengenyangkan perut. Pernah suatu waktu, sudah satu hari setengah ia tidak makan. Uangnya sudah habis, pun dengan persediaan berasnya. Perutnya berdendang tanda lama tak terisi, langkahnya gontai. Fajar berniat mencuri beras teman satu kamarnya. Ketika itu semua teman kamarnya sudah berangkat mengaji. "Ini waktu yang tepat, jar." Kalimat itu seolah ada yang membisiki. Dalam agama, mungkin ini yang dinamakan bisikan setan. Atau jin, atau mungkin itu bisikan Fajar sendiri, yang sudah terlampau lama tidak makan. Fajar termotivasi. Tapi, belum sempat Fajar mengambil beras dari karung, Mang Wanda Lurah pesantren menggedor-gedor pintu tetangga kamarnya agar para santri berangkat mengaji di Masjid. Dia ketakutan, lalu bergegas untuk mengaji.
Niat itu akhirnya terkubur setelah di Masjid Kyai Qurthubi membahas tentang Sabar dalam kitab Matan Tanqihul Qoul karya ulama besar Banten yang mendunia, Syeikh Nawawi al-Bantani. Dimana dalam kitab tersebut Syeikh Nawawi mengutip hadist Rasulullah tentang empat macam sabar; Sabar dalam menjalankan yang fardhu, sabar dalam menghadapi musibah, sabar menghadapi gangguan manusia, dan sabar menghadapi kefakiran. Sabar dalam menjalankan yang fardhu adalah taufik, sabar dalam menghadapi musibah berpahala, sabar menghadapi gangguan manusia adalah cinta, dan sabar menghadapi kefakiran adalah ridho Allah ta’ala.
***
Libur semester sekolah sudah tiba. Itu artinya ketersiksaan Fajar selama lima bulan ke belakang segera berakhir. Ia akan izin ke Kyai untuk pulang ke rumah. Setidaknya dengan pulang ia bisa memakan apa saja yang bisa dimakan di rumah, tidak lagi menunggu belas kasihan teman-temannya di pesantren yang menawarinya makan. Semenjak tidak dikirim oleh orang tuanya, Fajar sering merasa hidupnya bagai parasit. Kadang hutang uang kepada temannya, kadang meminta beras, kadang pula mencari sisa-sisa nasi di dapur pesantren yang setengah reyot dengan dinding yang menghitam karena asap. Dengan kepulangan ini selain mengakhiri 'ketersiksaan' di pesantren, ia juga bisa melepas rindu pada Ayah-Ibunya di rumah.
Fajar juga mendapat kabar kalo ia diminta warga di kampungnya menjadi qori untuk kegiatan PHBI. Ia semangat dan begitu antusias untuk segera mempraktikan hasil belajarnya di pesantren selama ini, sudah terlintas dibenaknya akan membaca Surat apa dan maqam apa. Membaca QS. Al-Isra mulai dari ayat 1 dengan maqam Bayati yang berkarakter serius, kemudian Nahawand yang sedih itu, dan terakhir ia akan membaca dengan maqam Jiharkah untuk menggembirakan suasana hatinya.
Akhirnya, kelak semua orang tahu kalau kita punya Qori Internasional bernama Fajar, Juara MTQ Internasional di Iran, Turki, dan Mesir. Sering diundang kegiatan PHBI di Istana Negara, membuat para pejabat menangis sendu, merenungi senandung kalam ilahi yang dilantunkannya. Selama menjadi Qori, ia hanya berharap Ayah Ibunya tersenyum bangga. Dan ia tidak lagi kelaparan.
*Tulisan ini hanyalah fiksi belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat memang disengaja.
Penulis: Alzeiraldy Idzhar Ghifary, Pendidikan Fisika 2017.