“Melangkah di atas jalan terjal nan curam memanglah berat, tapi lebih berat lagi ketika kita melangkah tanpa tahu arah tujuan. Pun di atas jalan datar nan mulus yang sangat familiar, berjalan tanpa tahu ke mana arah tujuan akhir melangkah adalah seberat-berat perjalanan yang akan kita hadapi. Sebaliknya, sesulit apapun kita berjalan di atas medan berbatu, bersalju atau menanjak sekalipun, ketika kita tahu apa tujuan akhir dari perjalanan kita, maka kita akan lebih semangat melangkah, lebih memiliki kekuatan untuk menghadang apapun rintangan yang akan dihadapi. Kita jadi lebih (merasa) memiliki harga diri. Hal-hal yang membuat kita yakin segala kesulitan cukup berharga untuk disingkirkan, sebab ada sebuah kemenangan yang pantas diperjuangkan.” (Scientia Afifah)
Serangkaian kalimat penuh makna di atas ditulis oleh Scientia Afifah Taibah, seorang hafidzah, alumni FH UI sekaligus penulis yang bersuamikan seorang pengusaha muda nan sukses bernama Andreas Senjaya atau akrab disapa Jay. Namanya mungkin masih terdengar asing di kalangan awam, tak sepopuler pengusaha sukses lainnya, seperti Khairul Tanjung, Bob Sadino dan sederet kalangan entrepreneur lain yg namanya familiar di telinga kita. Tapi siapa sangka, di balik kehidupannya yang amat bersahaja, nama yang belum dikenal masyarakat luas itu adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang Startup dengan omzet puluhan miliar setiap tahunnya. Pria kelahiran 4 September 1989 yang pernah menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi Fasilkom UI, dan Mahasiswa Berprestasi 2 UI ini menjadi salah satu founder Badr Interactive, perusahaan Startup yang darinya telah terlahir banyak aplikasi-aplikasi ternama seperti Yawme, CompleteQur’an, UrbanQurban dan lain-lain. Dalam menjalankan usahanya, Jay selalu menanamkan prinsip, yakni bagaimana agar segala teknologi yang ada dan usaha yang ditekuninya bisa membawa manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat luas. UrbanQurban misalnya, pada tahun 2012 lalu, saat Jay menjadi CEO Badr Interactive bersama D!yours Human Centered Desain (HCD) dan Twipstudio, mendirikan sebuah platform berkurban secara online lewat web dan aplikasi mobile yang diberi nama UrbanQurban. Jay berharap, UrbanQuran bisa menjadi solusi atas persoalan masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah qurban namun terkendala waktu atau kesibukan. Dengan UrbanQurban, kita bisa berqurban tanpa harus datang ke penjual-penjual hewan qurban di pinggir jalan, bisa mendapatkan kualitas hewan qurban yang bagus, dan yang pasti daging qurban kita akan disalurkan kepada mereka yang kurang mampu, dan semua itu bisa dilakukan secara online.
Kesuksesan Jay semakin melejit saat ia mendirikan sekaligus menjadi CEO i-Grow, yaitu sebuah aplikasi yang bergerak di bidang pertanian. Aplikasi ini bisa menghubungkan para petani, pemilik lahan dan investor di bisnis pertanian.
Model bisnis iGrow, disebutkan Jay, menguntungkan berbagai pihak yang terlibat. Bagi masyarakat yang hanya ingin menjadi investor bisa membeli paket benih tanamannya. Bagi petani yang tidak memiliki lahan bisa menjadi pengelolanya, sementara bagi pemilik lahan nganggur bisa menyewakan tanahnya. iGrow turut mengelola kelompok tani sekaligus melaporkan perkembangannya yang disertai foto secara berkala kepada investor. Model bisnis tersebut memang sangat nyaman bagi kaum urban yang hendak berinvestasi di sektor pertanian. Ibarat kata, tanpa harus mengotori sepatu pun, investor dari kota-kota besar sudah bisa mencicipi sekaligus menikmati bisnis pertanian riil. (Youngster Inc)
Pada tahun 2016, iGrow sudah melakukan penanaman lebih dari 1.200 hektar. Penanaman tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Bali, Blitar, Garut, Tanjung Lesung dan lain sebagainya, iGow juga telah membangun kerjasama dengan lebih dari 2200 orang petani.
Atas izin-Nya, melalui iGrow, Jay semakin banjir prestasi dan penghargaan. Pada tahun 2014, Andreas Senjaya mempresentasikan iGrow di kompetisi Pitching Arena, yang merupakan rangkaian dari Tech in Asia Conference (pada saat itu masih bernama StartUp Asia 2014), dan Jay dinyatakan sebagai pemenang. Tahun berikutnya, iGrow kembali memenangkan kompetisi Payment Dragons Den Asia iGrow 2015. Masih di tahun yang sama, Jay kembali mengikuti sebuah kompetisi Startup internasional yang bernama Startup Istanbul dan berhasil meraih juara ke dua. Melalui prestasi tersebut, ia pun dilirik oleh Forbes yang menyebut iGrow sebagai “FarmVille di dunia nyata”.
Seolah tak cukup dengan prestasi-prestasi yang telah diraihnya, pada tahun 2016, Jay berhasil masuk ke dalam akselerator yang dibuat oleh 500 Startups di San Fransisco, Amerika Serikat dan menjadi satu-satunya wakil dari Asia Tenggara dalam event tersebut. TechCrunch bahkan memasukkan iGrow ke dalam daftar 11 startup pilihan dari total 40 startup yang mengikuti akselerator tersebut. (id. Techinasia.com). Bila dirinci, maka prestasi besar di bidang akademik, bisnis, dan sosial yang pernah diraih Andreas Senjaya antara lain:
Juara 2 Startup Istanbul 2015
Merit Winner, Indonesia ICT Award, kategori Finance and SME Application, 2015.
Penghargaan Startup teladan Depok, Depok ICT Award 2015.
Juara 1, Dragons Den Mobile Money Asia 2015.
Juara 1, Startup Arena, StartUp Asia 2014
Indonesia Youngster Inc. Startup Champion 2014 dari Majalah SWA
Juara 1, industry Creative Festival Kementerian Perindustrian Indonesia 2013
Merit winner, Indonesia ICT Award 2013, kategori Small Medium Enterprise Application
Special Mention, Indonesia ICT Award 2013, kategori e-inclusion and Social Entrepreneur Application.
Juara 2 Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia (2010)
Juara 1 Mahasiswa Berprestasi Fasilkom UI (2010)
Kini, Jay telah berkeluarga dengan seorang wanita asal Depok yang sama-sama alumi UI, Scientia Afifah dan dikaruniai seorang putri bernama Azima Tsurayya. Meski terbilang sukses dan memiliki banyak kekayaan, namun gaya hidup pasangan muda ini tetap bersahaja, Jay yang pulang pergi ke kantor menggunakan angkutan umum atau sepeda motor misalnya, atau Ifah yang secara penampilan terlihat amat sederhana. Jay dan Ifah juga dikenal religuis, Ifah sendiri sudah hafal 30 juz Qur’an sejak masih tingkat 1 di Universitas Indonesia. Belum lagi keduanya pernah sama-sama ditempa di Rumah Kepemimpinan UI yang memang menekankan penggemblengan pada aspek karakter, skill dan religiusitas. Sewaktu tinggal di San Fransisco, Amerika Serikat, guna mengikuti kompetisi Startup, Ifah mengajar mengaji tetangga-tetangganya yang muslim dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di sana.
Sumber foto: Kompasiana.com
Dalam menjalankan bisnisnya, usaha Jay tentu tak mulus-mulus saja, berbagai kendala seperti kekurangan biaya kerap menghalangi langkah Jay, namun seperti tulisan sang istri di paragraf awal, segala kesulitan yang menghadang, meski jalan yang dilalui berkelok, terjal dan menanjak sekalipun, tapi saat kita tahu apa tujuan akhir yang pantas kita perjuangkan, maka kita akan lebih semangat melangkah, mengalahkan apapun rintangan dan medan sulit yang menghadang. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup, tak peduli semulus atau sefamiliar apapun jalan yang dilaluinya, ia akan tetap berjalan layaknya orang bingung. Maka salah satu hal penting dalam kehidupan, termasuk dalam berbisnis menurut Jay adalah memiliki tujuan jangka panjang, dan sebagai seorang muslim, tentu tujuan itu berorientasi pada akhirat, bahwa segala kebermanfaatan yang kita usahakan diharapkan bisa menjadi bekal dan tabungan kita di akhirat kelak. Dalam salah satu wawancara, Jay pernah berpesan:
“Hidup dengan visi dan value yang kuat itu lebih menarik jika dibandingkan hidup dengan dikendalikan oleh hal-hal materi atau uang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang itu yang lebih penting. Saya mau buktikan bahwa hidup dengan orientasi seperti ini, ternyata bisa sukses.”
Di tengah kesibukan sebagai pengusaha dan kerap diundang sebagai pembicara pada berbagai event besar, tentu lelah dan jenuh kerap menimpa Jay, namun Jay punya prinsip, bahwa dunia bukanlah tempat istirahat, usia yang singkat ini harus diisi dengan sebanyak-banyak amal kebaikan dan kebermanfaatan kepada sesama. Dengannya, Jay dan kita semua berharap agar surga menjadi sebenar-benar tempat peristirahatan kita.
“Ketika lelah menyapa, kala sibuk menghampiri, kuhujamkan selalu dalam hati, ‘Jay, istirahatnya di surga saja’. Buat setiap detikmu bermakna, jadikan setiap napasmu berarti.”
(Andreas Senjaya, Founder Badr Interactive & CEO iGrow)
Penulis: Dini Hanifa, Pendidikan Bahasa Indonesia 2018.