Langit tengah merundung, dibalik rimbun pepohonan awan-awan terlihat mendung, diikuti rintik hujan yang tak terhitung. Dari kejauhan, seorang pria setengah baya mengendarai motornya, hanya 100 meter lagi sampai pada rumahnya, menghindari anak hujan yang semakin beranak pinak.
Sesampainya di rumah, lelaki berjaket hijau hitam itu melepas senyum pada anak istrinya. Biasanya sepulang kerja ia tidak pernah absen untuk memeluk putri kecilnya terlebih dahulu, akan tetapi sebulan ini ia tak melakukan itu, hanya memberi salam dan senyum, setelah itu ia bergegas mandi dan mencuci pakaiannya.
Adzan maghrib berkumandang, semua tengah berkumpul di ruang makan. Di balik tudung saji itu, terhidang nasi dan sedikit kerupuk bekas kemarin. Puteri kecilnya dengan riang mengunyah kerupuk itu, tetapi si kakak hanya cemberut melihat makanan yang tersedia, sedangkan ayah ibunya hanya tersenyum melihat tingkah laku anaknya.
Diteguknya segelas air putih pelepas dahaga, belum sampai air itu masuk ke tenggorokan, ia sudah terbatuk-batuk mendengar anak sulungnya, Najma, menggebrak meja, memecah kehangatan keluarga itu.
"AYAH, NAJMA TIDAK MAU MAKAN!" seru si anak dengan penuh amarah.
"Kenapa, Nak?" Ibunya yang sedikit terkejut, turut memberikan perhatian pada Najma, anak berusia 9 tahun itu.
"Najma benci sama ayah, dari kemarin, kemarinnya lagi, teruuus kemarinnya lagi, ayah bilang bakalan beliin Najma kurma kalau Najma puasa penuh. Tiap hari Najma puasa penuh, tapi ayah selalu lupa beliin Najma kurma," ungkap Najma sambil terisak, "selalu saja yang ada dipiring cuma kerupuk doang, Najma bosen, Najma pengen kayak Sely. Tiap hari Sely selalu bilang makan ini lah, makan itu lah, tapi Najma? Cuma pengen kurma aja, ayah gak mau beliin!"
Ayahnya menunduk, perasaan bersalah mungkin menyeruak di dadanya. Tapi ia tidak menunjukkan kelemahannya itu pada Najma. Dipeluknya Najma yang tengah kesal pada ayahnya, tetapi Najma melepas pelukan itu dengan kasar, ia berlari ke kamar dengan perut kosong yang tak ingin diisi apapun selain kurma.
Si kecil, Aira hanya melohok menyaksikan drama keluarganya, ia terus memakan kerupuk itu dengan diberi kecap, sehingga tangan dan pipinya kotor.
"Ayah sih, kenapa tidak beliin Najma kurma?" tanya si Ibu menelisik.
"Tiga hari ini ayah tidak pernah mendapat orderan, di musim wabah seperti ini, siapa yang mau naik ojek ayah."
"Tapi ojol yang lain dapet orderan mulu tuh!"
"Mungkin belum rezekinya ayah aja, Bu."
"Terus gimana dong itu si Najma gak mau makan?"
"Yasudah, abis isya ayah ngojek lagi deh. Ibu dan Aira jangan keluar ya, maaf malem ini ayah gak bisa ngimamin sholat tarawih kalian."
Istrinya hanya mengangguk, segera setelah membereskan piring dan membersihkan Aira, ia membawa sepiring nasi dan kerupuk untuk Najma siapa tahu ia mau makan.
"Najma, Nak, makan dulu sayang. Ntar krupuknya abis dimakan Aira, loh!" ujar Ibunya yang tengah menggendong Aira.
"Pokoknya Najma gak mau makan sebelum Najma makan kurma." Najma masih bersikeras tidak ingin makan, bahkan matanya malas untuk menatap nasi dengan kerupuk sialan itu.
"Nak, bentar lagi ayah bawa kurma, Kok. Sekarang lagi beli, makan dulu yah?" Disodorkannya sepiring nasi itu pada Najma yang tengah tiduran di kasur. Najma meraih piring itu dan melemparkannya ke lantai.
"Pokoknya Najma gak mau makan!" ucapnya dengan marah. Lalu ia kembali tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ibunya hendak marah pada Najma, tapi tidak jadi dilakukannya. Aira mencairkan suasana, dipungutinya nasi tumpah itu dan dimakannya. Gadis kecil berusia tiga tahun itu asyik memakan nasi tumpah dan kerupuk milik kakaknya. Ibunya gemas, Najma benar-benar tak akan makan karena kerupuknya sudah dihabiskan Aira.
***
Harap-harap cemas menyelimuti malam itu. Pukul 2 malam suaminya tak kunjung pulang. Matanya masih menganga menunggu sang suami pulang, hingga ia tertidur di ruang makan.
Derit pintu membangunkannya, suaminya pulang dengan penuh gembira, digenggamnya plastik hitam yang cukup besar. Hampir saja ia akan memeluk istrinya dengan bangga tapi sang istri segera menghindar. Ia mengingatkan agar suaminya mandi terlebih dahulu, di musim wabah ini mereka harus amat berhati-hati.
Istrinya segera membangunkan Najma, Najma senang tak terkira, bahwa yang ia inginkan dari dua minggu yang lalu telah ada. Akhirnya Najma mau makan walau hanya dengan kecap saja.
Najma kembali riang seperti biasanya, ia banyak bertanya pada ayahnya dari mana kurma sebanyak itu ia dapatkan. Ayahnya hanya tersenyum kecut, menyembunyikan perjuanganannya berperang ditengah wabah. Ia hanya mengatakan bahwa kurma itu adalah hadiah yang Allah turunkan khusus untuk Najma karena telah berpuasa penuh selama dua minggu.
Najma semakin senang dan akan berpuasa dengan semangat lagi, tentu saja ia akan bercerita pada Sely kalau ramadhan ini di rumahnya juga ada kurma.
Penulis: Siti Umyati, Pendidikan Kimia 2019.